Deskripsi Masalah
Manusia memang tak luput dari salah dan lupa. Di suatu siang saat puasa Ramadhan, terbersit keraguan di hati Mas Bejo, apakah semalam ia sudah niat puasa atau belum. Bejo pun berusaha memutar balik ingatannya saat sahur semalam.
Pertanyaan: Batalkah puasa kang Bejo yang ragu sudah niat ataukah belum?
Jawaban:
Diperinci: Jika sebelum terbenam matahari ia teringat sudah melaksanakan niat di waktu malam, maka puasanya tidak batal Jika tidak ingat sama sekali maka puasanya batal. Demikian juga jika ingat setelah terbenam matahari, maka batal puasanya kecuali mengikuti pendapat imam Adzro’i, maka tidak batal.
Referensi
مغني المحتاج الجزء الأول ص: ٥٦٧ طبعة دار الكتب العلمية
وَلَوْ شَكٍّ نَهَارًا هَلْ نَوَى لَيْلًا ثُمَّ تَذَكَّرَ وَلَوْ بَعْدَ مُضِي أَكْثَرِ النَّهَارِ أَجْزَأَهُ صَوْمُهُ، فَإِنْ لَمْ يَتَذَكَّرِ النَّهَارَ لَمْ يُجْزِهِ لأنَّ الْأَصْلَ عَدَمُ النِّيَّةِ وَلَمْ تَنْجَبِرْ بِالتَّذَكَّرِ نَهَارًا وَمُقْتَضَى هَذَا أَنَّهُ لَوْ تَذَكَّرَ بَعْدَ الْغُرُوبِ لَمْ يُجْزِهِ، وَالظَّاهِرُ الْإِجْزَاءُ كَمَا قَالَهُ الْأَذْرَعِي
ولو شك نهارًا هل نوى ليلًا ثم تذكر ولو بعد مضي أكثر النهار أجزأه صومه
Jika seseorang siang hari ragu: “Tadi malam saya sudah niat atau belum?”, kemudian ia ingat kembali, walaupun setelah sebagian besar siang berlalu, maka puasanya sah.
فإن لم يتذكر النهار لم يجزه لأن الأصل عدم النية
Jika sampai akhir siang ia tidak ingat, maka puasanya tidak sah, karena kaidahnya:
الأصل عدم النية
Hukum asalnya adalah belum ada niat. Dalam puasa fardhu (menurut mazhab Syafi’i), niat harus ada di malam hari.
ولم تنجبر بالتذكر نهارًا
Artinya: niat tidak bisa “ditambal” dengan membuat niat di siang hari (untuk puasa fardhu).
ومقتضى هذا أنه لو تذكر بعد الغروب لم يجزه
Konsekuensi logisnya: Kalau dia baru ingat setelah maghrib, berarti tidak sah.
والظاهر الإجزاء كما قاله الأذرعي
Tetapi menurut Al-Adzra‘i, yang lebih kuat justru:
Kalau dia ingat setelah maghrib bahwa tadi malam memang sudah berniat, maka puasanya tetap sah.




