SDIT Salsabila 3

Deskripsi Masalah:

Astagfirullah!! Itu yang yang dilontarkan kang Ari ketika bangun dari tidurnya. Dikarenakan ia tadi malam tidak niat puasa, gara-garanya ia tidur setelah shalat tarawih dan bangun pas adzan subuh.

Pertanyaan:

Apakah yang harus dilakukan oleh Kang Ari?

Jawaban:

Solusinya Mengikuti Madzhab Hanafiyah yang memperbolehkan niat sebelum memasuki waktu dzuhur.

تحفة المحتاج وحواشي الشرواني والعبادي الجزء الثالث ص: ۱۷۰ طبعة دار الفكر
(التَّبْيِيتُ) أَيْ: إِيقَاعُ النِّيَّةِ لَيْلًا أَيْ: فِيمَا بَيْنَ غُرُوبِ الشَّمْسِ وَطُلُوعِ الْفَجْرِ وَلَوْ فِي صَوْمِ الْمُمَيِّزِ وَإِنْ كَانَ نقلا؛ لِأَنَّهُ عَلَى صُورَةِ الْفَرْضِ كَصَلَاتِهِ الْمَكْتُوبَةِ وَذَلِكَ لِلْخَبَرِ الصَّحِيحِ مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ وَالْأَصْلُ فِي النَّفْيِ حَمْلُهُ عَلَى نَفْيِ الْحَقِيقَةِ لَا الْكَمَالِ إِلَّا لِدَليلٍ، وَيُشْتَرَطُ النَّبْبِيتُ لِكُلِّ يَوْمٍ؛ لِأَنَّهُ عِبَادَةُ مُسْتَقِلَةٌ وَاخْتَلَفُوا فِي أَخْذِ هَذَا مِنْ قَوْلِهِ الْآتِي صَوْمَ غَدٍ وَالْحَقُّ أَنَّهُ لَا يُؤْخَذُ مِنْهُ خِلَافًا لِلسُّبْكِي وَمَنْ تبعه؛ لِأَنَّ ذَاكَ فِي الْكَمَالِ وَالْقَائِلُ بِالاكْتِفَاء بِهَا فِي لَيْلَةٍ عَنْ بَقِيَّةِ الشَّهْرِ عِنْدَهُ أَنَّ الْكَمَالَ ذَلِكَ قَوْلُهُ فِي أَخْذِ هَذَا أَي اشْتِرَاطِ التَّسْبِيتِ لِكُلِّ يَوْم (قَوْلُهُ؛ لِأَنَّ ذَاكَ) أَيْ قَوْلَ الْمُصَيِّفِ الْآتِيَ إِلَخْ (قَوْلُهُ وَالْقَائِلُ بالاكتفاء بِهَا إِلَحْ) هُوَ الْإِمَامُ مَالِكَ وَلَا بُدَّ مِنْ تَقْلِيدِهِ فِي ذَلِكَ كَمَا فِي فَتْحِ الْجَوَادِ وَغَيْرِهِ وَيُسَنُّ لِمَنْ نَسِيَ فِي رَمَضَانَ حَتَّى طَلَعَ الْفَجْرُ أَنْ يَنْوِيَ أَوَّلَ النَّهَارِ؛ لِأَنَّهُ يُجْزِئُهُ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةً قَالَ فِي الْإِيعَابِ هُوَ ظَاهِرُ إِنْ قَلَّدَهُ وَإِلَّا فَهُوَ تَلْبَسُ بِعِبَادَةٍ فَاسِدَةٍ فِي عَقِيدَتِهِ وَهُوَ حَرَامُ انْتَهَى

(At-tabyīt) artinya: melakukan atau menghadirkan niat pada waktu malam, yaitu antara terbenamnya matahari hingga terbitnya fajar. Hal ini diwajibkan meskipun pada puasa anak yang sudah mumayyiz (dapat membedakan baik dan buruk), walaupun puasanya sunnah; karena puasanya menyerupai bentuk puasa wajib sebagaimana shalat fardhu yang ia lakukan.

Ketentuan ini berdasarkan hadis sahih: “Barang siapa tidak meniatkan puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.”

Hukum asal dalam lafaz penafian (tidak ada puasa baginya) adalah dipahami sebagai penafian hakikat (tidak sah), bukan sekadar penafian kesempurnaan, kecuali jika ada dalil yang memalingkannya.
Dan disyaratkan melakukan niat setiap malam untuk tiap hari puasa, karena setiap hari merupakan ibadah yang berdiri sendiri.

Para ulama berbeda pendapat apakah ketentuan ini dapat diambil dari ucapan yang akan datang “puasa esok hari”. Pendapat yang kuat menyatakan bahwa hal itu tidak dapat diambil darinya, berbeda dengan pendapat As-Subki dan yang mengikutinya; karena pembahasan tersebut terkait kesempurnaan (niat yang lebih lengkap), sedangkan yang berpendapat cukup satu niat untuk sebulan penuh memahami bahwa itu sudah mencakup kesempurnaan.
Yang dimaksud dengan pendapat tentang pengambilan hukum ini (yakni syarat niat setiap malam) adalah dari perkataan pengarang yang akan datang.

Adapun yang berpendapat cukup satu niat untuk seluruh bulan adalah Imam Malik, dan dalam hal ini harus benar-benar bertaklid kepadanya sebagaimana dijelaskan dalam Fath al-Jawad dan lainnya.
Disunnahkan bagi orang yang lupa berniat pada malam Ramadan hingga terbit fajar untuk tetap berniat di awal siang hari; karena menurut Abu Hanifah, hal itu tetap sah baginya.

Dalam kitab Al-I‘ab dijelaskan: hal itu tampak jelas jika ia memang bertaklid kepadanya; jika tidak, maka ia berarti melakukan ibadah yang rusak menurut keyakinannya sendiri, dan itu haram.