Deskripsi masalah: Di siang hari, saat sedang berpuasa, Cak Umar terlihat sedang asyik mandi di kolam milik pesantren. Saat ia sedang membersihkan telinganya dengan air, tak sengaja sebagian air ada yang masuk ke dalam telinga.
Pertanyaan: Apakah puasa cak Umar menjadi batal?
Jawaban: Jika mandi yang ia lakukan ada tuntutan dari syariat baik mandi wajib seperti mandi junub, atau sunah seperti mandi Jumat, maka tidak batal selama mandinya tidak dengan menyelam. Jika yang ia lakukan bukan mandi sebagaimana di atas, seperti mandi agar rasa panasnya hilang atau untuk membersihkan badan maka puasanya batal secara mutlak.
Referensi:
وَلَا يُفْطِرُ بِسَبْقِ مَاءٍ جَوْفَ مُغْتَسِلٍ عَنْ نَحْوِ جَنَابَةٍ كَحَيْضٍ وَنِفَاسٍ إِذَا كَانَ الِاغْتِسَالُ بِلَا انْغِمَاسٍ فِي الْمَاءِ، فَلَوْ غَسَلَ أُذُنَيْهِ فِي الْجَنَابَةِ فَسَبَقَ الْمَاءُ مِنْ إِحْدَاهُمَا إِلَى جَوْفِهِ لَمْ يُفْطِرْ، وَإِنْ أَمْكَنَهُ إِمَالَةُ رَأْسِهِ أَوِ الْغُسْلُ قَبْلَ الْفَجْرِ، كَمَا إِذَا سَبَقَ الْمَاءُ إِلَى الدَّاخِلِ لِلْمُبَالَغَةِ فِي غَسْلِ الْفَمِ الْمُتَنَجِّسِ لِوُجُوبِهَا.
بِخِلَافِ مَا إِذَا اغْتَسَلَ مُنْغَمِسًا فَسَبَقَ الْمَاءُ إِلَى بَاطِنِ الْأُذُنِ أَوِ الْأَنْفِ، فَإِنَّهُ يُفْطِرُ، وَلَوْ فِي الْغُسْلِ الْوَاجِبِ، لِكَرَاهَةِ الِانْغِمَاسِ، كَسَبْقِ مَاءِ الْمَضْمَضَةِ بِالْمُبَالَغَةِ إِلَى الْجَوْفِ مَعَ تَذَكُّرِهِ لِلصَّوْمِ وَعِلْمِهِ بِعَدَمِ مَشْرُوعِيَّتِهَا، بِخِلَافِهِ بِلَا مُبَالَغَةٍ.
وَخَرَجَ بِقَوْلِي: عَنْ نَحْوِ جَنَابَةٍ، الْغُسْلُ الْمَسْنُونُ وَغُسْلُ التَّبَرُّدِ، فَيُفْطِرُ بِسَبْقِ مَاءٍ فِيهِ، وَلَوْ بِلَا انْغِمَاسٍ.
(قَوْلُهُ: وَخَرَجَ بِقَوْلِي…) فِي خُرُوجِ هَذَا نَظَرٌ، فَإِنَّهُ مَأْمُورٌ بِهِ، فَحُكْمُهُ حُكْمُ غُسْلِ الْجَنَابَةِ بِلَا خِلَافٍ، بِدَلِيلِ الْغَايَةِ الَّتِي ذَكَرَهَا قَبْلُ – أَعْنِي قَوْلَهُ: وَلَوْ فِي الْغُسْلِ الْوَاجِبِ – فَإِنَّهُ يَنْدَرِجُ تَحْتَهَا الْغُسْلُ الْمَسْنُونُ كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ، فَيُفِيدُ حِينَئِذٍ أَنَّهُ إِذَا سَبَقَ الْمَاءُ إِلَى جَوْفِهِ فِيهِ مِنْ غَيْرِ انْغِمَاسٍ لَا يُفْطِرُ.
(وَالْحَاصِلُ) أَنَّ الْقَاعِدَةَ عِنْدَهُمْ أَنَّ مَا سَبَقَ إِلَى جَوْفِهِ مِنْ غَيْرِ مَأْمُورٍ بِهِ يُفْطِرُ، وَمَا سَبَقَ مِنْ مَأْمُورٍ بِهِ – وَلَوْ مَنْدُوبًا – لَا يُفْطِرُ.
“Dan tidak membatalkan puasa karena masuknya air ke dalam perut orang yang mandi (wajib) karena sebab seperti janabah, haid, atau nifas, apabila mandinya tidak dengan cara berendam (menyelam) di dalam air.
Maka seandainya ia membasuh kedua telinganya dalam mandi janabah, lalu air masuk dari salah satunya ke dalam tubuhnya, maka tidak membatalkan puasa, meskipun sebenarnya ia mampu memiringkan kepalanya atau mandi sebelum fajar.
Demikian pula jika air masuk ke bagian dalam karena berlebih-lebihan dalam berkumur untuk membersihkan mulut yang terkena najis — karena berkumur dalam keadaan itu memang wajib — maka tidak membatalkan.
Berbeda halnya jika ia mandi dengan cara menyelam (berendam), lalu air masuk ke bagian dalam telinga atau hidung, maka itu membatalkan puasa, meskipun dalam mandi wajib. Hal ini karena hukum menyelam bagi orang yang berpuasa adalah makruh.
Sebagaimana juga air berkumur yang masuk ke dalam perut karena berlebih-lebihan, sementara ia ingat sedang berpuasa dan tahu bahwa berlebih-lebihan itu tidak disyariatkan, maka itu membatalkan. Berbeda jika tanpa berlebih-lebihan.
Kemudian dikecualikan dari perkataan “karena sebab seperti janabah” yaitu mandi sunnah dan mandi untuk menyegarkan badan (tabarrud). Maka jika air masuk ke dalam tubuh saat mandi tersebut, puasanya batal, walaupun tanpa berendam.
Namun pernyataan ini dikritisi: karena mandi sunnah juga merupakan perintah syariat, maka hukumnya seperti mandi janabah tanpa perbedaan. Berdasarkan kalimat sebelumnya: “meskipun dalam mandi wajib”, maka mandi sunnah termasuk di dalamnya. Sehingga jika air masuk ke dalam tubuh tanpa berendam, maka tidak membatalkan.
Kesimpulannya, kaidah menurut para ulama:
Apa saja yang masuk ke dalam tubuh dari perbuatan yang tidak diperintahkan (tidak dituntut syariat), maka membatalkan puasa.
Sedangkan yang masuk dari perbuatan yang diperintahkan syariat — meskipun hanya sunnah — maka tidak membatalkan.
___
Apakah air yang masuk ke telinga saat mandi di siang hari ketika berpuasa membatalkan puasa?
Hukum air masuk telinga saat puasa
Apakah mandi membatalkan puasa
Air masuk telinga batal puasa atau tidak
Mandi junub saat puasa apakah batal
Mandi sunnah saat puasa
Hukum menyelam saat puasa
Air masuk hidung saat mandi puasa
Fiqih puasa mazhab Syafi’i
I’anat al-Talibin tentang mandi dan puasa
Puasa dan mandi kolam pesantren
